kategori

Gudeg di Jogja Jadi Wisata Kuliner Paling Tua di Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta memang mendapatkan julukan sebagai kota gudeg. Pasalnya, wisata kuliner yang paling terkenal di Jogja adalah gudeg. Ada banyak sekali warung dan resto yang menjual menu gudeg. Mulai dari yang paling populer Gudeg Yu Djum, Gudeg Slamet, Gudeg Wijilan dan masih banyak lainnya. Bahkan saat ini sudah banyak gudeg dalam versi kalengan yang bisa tahan hingga 1 tahun. Apa yang istimewa dari gudeg di Jogja? Yuk simak ulasannya berikut ini:

Asal Usul Gudeg Jogja dan Cita Rasa Khas Kelezatannya

Gudeg merupakan jenis masakan yang berbahan dasar nangka muda dan dimasak dengan santan. Membutuhkan waktu berjam-jam untuk membuat gudeg yang enak. Umumnya masakan gudeg berwarna coklat, dimana warna ini dihasilkan dari daun jati yang dimasak bersamaan. Gudeg disajikan bersama nasi putih, ayam kampung, kuah santan kental, tahu dan sambal goreng krecek. Ada beberapa varian gudeg di Jogja yang bisa Anda cicipi, antara lain:

  • Gudeg kering: disajikan dengan areh kental (lebih kental dari santan pada masakan padang).
  • Gudeg basah: disajikan dengan areh encer.
  • Gudeg solo: disajikan dengan areh berwarna putih.

Gudeg di Jogja disebut-sebut sebagai ikon kuliner yang paling tua, karena sudah ada sejak jaman Kerajaan Mataram pada abad ke-16. Konon, dulunya para prajurit dari Mataram membongkar sebuah hutan belantara (sekarang berada di kawasan Kotagede) dimana ternyata ada banyak sekali pohon nangka dan kelapa. Karena jumlah prajurit yang sangat banyak, mereka memenuhi kebutuhan makan dengan memasak nangka muda bersama kelapa dalam sebuah ember besar dari logam. Dulunya mereka menyebut masakan ini sebagai “hangudek” alisan mengaduk. Hingga saat ini untuk memudahkan penyebutannya makanan khas ini disebut dengan gudeg. Siapa sangka, dengan makanan yang sebenarnya tidak disengaja tersebut, gudeg bisa menjadi ikonik dan identitas kota Jogja.

Namun ada juga versi cerita lain yang mengatakan bahawa gudeg di Jogja berawal dari tahun 1726-1728 saat terjadi penyerbuan ke Batavia oleh Sultan Agung yang memang tercatat dalam sejarah, tapi belum ada bukti kebenarannya. Terlepas bagaimana pun asal usul gudeg¸ hingga saat ini masih banyak tumbuh pohon nangka di pekarangan rumah warga, sehingga gudeg masih sangat lestari di Jogja.

Salah satu ciri khas gudeg adalah dilihat dari kemasannya. Masih banyak penjual gudeg yang masih menggunakan besek untuk kemasannya. Besek adalah semacam wadah berbentuk segi empat yang terbuat dari bambu yang dianyam. Ada juga yang mengemas gudeg dengan kendil, sebuah wadah yang terbuat dari tanah liat yang dibakar.

Sebenarnya yang membuat cita rasa gudeg sangat khas adalah dari segi resep turun menurun dan cara memasaknya. Untuk menghasilkan rasa yang enak dan meresap, gudeg perlu dimasak dalam berjam-jam. Meskipun kebanyakan gudeg bisa awet hingga dua hari, namun dalam memasaknya tidak menggunakan bahan pengawet khusus, termasuk dalam gudeg kering yang bisa bertahan berhari-hari. Penggunaan ayam kampung juga masih dipertahankan dalam sajian gudeg karena dinilai lebih khas dan tradisional daripada menggunakan ayam biasa.

Terakhir, untuk harga gudeg cukup bervariasi. Jika Anda membelinya di warung biasa pinggir jalan, mungkin dijual dengan harga Rp 15.000 – Rp Rp 25.000 saja. Namun jika Anda membelinya di resto yang memang terkenal dengan gudegnya, biasanya dijual lebih mahal yaitu mulai dari Rp 50.000 – Rp 100.000 per besek-nya. Tenang saja, harga ini sebanding dengan kualitas gudeg yang dimasak. Bagaimana?!.. Anda tertarik mencicipi kelezatan gudeg di Jogja?!..

Berikan poin Anda

2 points
Upvote Downvote

Total votes: 2

Upvotes: 2

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasi Tempong Banyuwangi, Disebut Sebagai Nasi “Dari Sawah Ke Hotel”

Getuk Lindri, Makanan Tradisional Jawa yang Hampir Punah